news

Permintaan Kabel Akan Terus Meningkat

08-01-2009

Kapanlagi.com - Permintaan berbagai jenis kabel diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya pembangunan di beberapa negara dunia, termasuk di kawasan Timur Tengah dan juga di Indonesia.

"Permintaan pasar untuk kabel, terutama untuk jenis kabel listrik, semakin meningkat. Di Timur Tengah memang permintaan sedang `booming` karena pembangunan pembangkit listrik di sana cukup banyak, sama halnya dengan di Indonesia saat ini," kata Direktur Pemasaran PT GT Kabel Indonesia, Iming Sujana, di Jakarta, Jumat (18/7).

Menurut dia, pasar Timur Tengah merupakan pasar terbesar untuk produk kabel saat ini seiring dengan rencana penambahan kota-kota baru yang tentu membutuhkan pembangkit-pembangkit listrik baru. Sekitar 70 hingga 75% ekspor kabel perusahaan dilakukan ke Timur Tengah, sedangkan sisanya menyebar ke beberapa kawasan termasuk Afrika.

Dia mengatakan, permintaan kabel di tanah air pun semakin meningkat karena pembangunan di kota-kota besar seperti perkantoran, apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, dan termasuk pembangunan pembangkit listrik 10.000 Mega Watt juga meningkat.

Sejauh ini, dia mengatakan, kenaikan harga jual produk akibat meningkatnya harga bahan baku tembaga dan aluminium seiring dengan meningkatnya harga baja dunia tidak mempengaruhi tingkat penjualan. Jika pada pertengahan tahun 2004 harga tembaga masih berkisar antara US$1.600 per metrik ton hingga US$1.800 per metrik ton, maka harga tembaga saat ini telah mencapai US$8.400 per metrik ton.

Oleh karena itu, dia mengatakan, perusahaannya menggunakan sistem kontrak terbuka di mana harga jual produk akan berubah sewaktu-waktu mengikuti harga bahan baku di pasaran.

"Penawaran kita berdasarkan harga tembaga dan aluminium pada saat pemesanan terjadi, jika pada proses pembuatan ada kenaikan harga kita akan `adjust` sesuai harga pasar. Karena itu jenis kontrak yang sepakati adalah kontrak terbuka," ujar dia.

Sedangkan untuk memasok kabel listrik ke PLN, menurut dia, memang agak berat terkait kontrak karena mengingat PLN tidak begitu fleksibel seperti swasta dalam perubahan harga. Karena itu jika PLN tidak menyesuaikan diri dengan kondisi di lapangan akan sulit proyeknya untuk berjalan.

"Jadi, tantangannya kadang-kadang kita ambil posisi, ya sudah kita suplai dulu permintaan eskalasi belakangan. Dalam beberapa kasus eskalasi sudah berhasil, tapi beberapa masih diupayakan," ujar dia.

Menurut dia, hingga saat ini masih ada tiga paket yang dikerjakan GT Kabel Indonesia yang statusnya "outstanding" karena masih dalam proses eskalasi harga dengan PLN. Nilai paket memang tidak terlalu besar karena untuk paket dengan nilai besar telah selesai pada 2006 lalu.

Dia mengatakan, untuk kelangsungan proyek 10.000 MegaWatt (MW) tahap dua akan semakin berat penyelesaiannya karena harga bahan baku melonjak pesat, terutama untuk kebutuhan baja. PLN saat ini masih berkonsentrasi menghadapi kenaikan harga baja yang berujung pada kenaikan harga tower.

Jika sebelum ada kenaikan harga bahan baku untuk pembangunan proyek transmisi komposisi pembiayaan 30% untuk konduktor, maka untuk tower mencapai 40%, katanya. Saat ini, komposisi tersebut sudah tidak memungkinkan karena kenaikan harga bahan baku sudah lebih dari 50%."Kita support proyek PLN, kita rasakan bagaimana pembelanjaan PLN saat krisis. Karena itu kita konsentrasi ke pasar ekspor saat itu," katanya. (kpl/rif)

Sumber : http://www.kapanlagi.com. Posted Jan 8, 2009 1:50 AM by Hilmy Hasanuddin